header coretan ibu kiya

Tentang Ibu dan Wasiatnya

10 komentar
Jasmine Elektrik
Single Terbaru Jasmine Elektrik

Lagu, bagiku menjadi salah satu media penghiburan, sekaligus perenungan. Mendengarkan lagu dengan nada yang menghentak mampu membawa kita terlepas dari kepenatan rutinitas (meski) sejenak. Lagu dengan lirik yang menggugah dan melankolis mampu membawa hati kita hanyut dalam sebuah perenungan yang mendalam. Terlebih lagu yang mengangkat tema tentang 'ketuhanan’, 'perpisahan’, dan 'ibu’.

Seperti sore ini, ketika hatiku tersentak oleh sebuah lagu berjudul “Ibu”. Single terbaru dari Band Indie Jasmine Elektrik. Band independen asal Yogyakarta yang dulunya bernama Jasmine Akustik. Setelah 15 tahun lebih menekuni dunia musik, mereka tampil dengan nama dan warna musik yang lebih fresh. Instrumen musik yang digunakan lebih up to date, dengan melodi yang easy listening sehingga mudah diterima oleh segala usia dan kalangan. Namun, satu ciri khas yang tidak mereka tinggalkan, lirik lagu yang mereka ciptakan selalu mengandung pesan dan makna yang mendalam.

Single Ibu
Personel Jasmine Elektrik

Band yang digawangi oleh Dika (vokal), Pram (gitar), Wasis (drum), Joko (bass), dan Moko (keyboard) ini baru saja merilis single terbarunya berjudul ‘Ibu’ dengan deretan lirik yang mampu memporak-porandakan ketahanan hatiku. Membawa ingatanku pada sosok wanita tangguh yang kini terpisah oleh ruang waktu.

Informasi lebih lengkap mengenai Jasmine Elektrik bisa diakses pada laman www.jasmine-elektrik.com.


TENTANG IBU DAN PESANNYA YANG MASIH KUJALANKAN HINGGA KINI



Dulu, seringkali kudengar nasihat dari handai taulan, tentang pentingnya meluangkan waktu bersama ibu selagi masih ada kesempatan. Melihat ibu yang yang begitu kuat dan tak pernah mengeluhkan rasa sakit, harapan untuk bisa menghabiskan waktu yang lama bersamanya di dunia bukanlah khayalan yang muluk bagiku.

Namun nyatanya, tak ada satupun manusia yang mengetahui Rahasia-Nya. Begitu pula dengan ketentuan terhadap hamba-Nya. Sosok yang begitu kuat dan sehat itu mendadak rapuh dan terbaring lemah. Tak butuh waktu lama, dalam hitungan bulan Allah ambil untuk selamanya.

Hari ini, tepat empat belas hari kepergian Ibu. Namun, rindu ini masih setia mengeram dalam kalbu. Bukan, bukan karena aku tak ikhlas. Aku yakin, kini Ibu telah bahagia dan terlepas dari rasa sakit di sana. Berkumpul dengan orang-orang baik yang dikasihi-Nya. Namun, kehilangan yang tiba-tiba ini memberi tamparan keras bagiku untuk melakukan perenungan atas semua kesalahan, dan hal-hal yang belum kujalankan, sekaligus peringatan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.


Selama ku dibesarkan Selama ku dipelukan Begitu banyak dosa yang telah aku lakukan
Buat Ibu terluka Buat Ibu kecewa Mohonku diingatkan Mohonku dimaafkan


Semua. Semua tentang Ibu, terekam nyata dalam lirik lagu itu.

Seperti inikah rasanya kehilangan? Saat semua yang ingin kulakukan tak dapat lagi kuwujudkan. Saat semua tanya tentang Ibu hanya berakhir dalam sebuah penyesalan panjang. Sungguh, kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu.

Jasmine Elektrik
Ibu

Ibu, bukanlah orang yang suka memberi nasihat panjang lebar tetapi ia selalu menunjukkan sebuah keteladanan. Tak heran jika pada hari kepergiannya, banyak orang yang menceritakan kebaikan hati ibu kepada kami. Pesan-pesan Ibu yang beliau sampaikan melalui keteladanan itu masih jelas dalam ingatan dan hingga kini kami berusaha menjalankannya.

Nerima (Bersyukur, Menerima Setiap Ketentuan dari Yang Maha Kuasa)

Ibu bukanlah sosok yang mudah terprovokasi oleh lingkungan. Meski keluarga besarnya hidup bergelimang harta, tak sekalipun beliau merasa rendah diri. Ia tetap menjalani hidup dengan penuh makna dalam kesederhanaan. Bahkan pakaian dan pernak-pernik duniawi yang dimilikinya pun tak banyak. Selama masih layak dipakai beliau tidak akan membeli yang baru, meski sebenarnya mampu.

Kebiasaan Ibu ini hingga kini masih kujalankan. Seperti kata Ibu, “Tak akan sampai dunia dikejar. Selama hidup dalam 'penerimaan’ dan bersyukur, ketentraman dalam genggaman”.

Mudah Memaafkan

Bagiku, Ibu adalah orang yang paling pemaaf di dunia. Tak hanya sekali dua kali Ibu menunjukkan pada kami betapa mudahnya memaafkan kesalahan orang.

Pernah suatu ketika, Ibu disakiti oleh beberapa keponakannya, berkaitan dengan urusan dunia. Kala itu, aku yang mengetahui posisinya pun merasakan sakit hati yang teramat dalam. Namun, setelah beberapa hari berlalu, dengan legawa Ibu melupakan perlakuan mereka. Bahkan setiap lebaran tiba, dengan tulus hati ibu mendatangi rumah-rumah keponakannya, dan menyampaikan permintaan maaf pada mereka. Karenanya, setiap kali diri ini dikuasai oleh amarah dan sakit hati oleh perlakuan orang, teladan dari Ibulah yang menjadi penguatan.

Mengalah demi Kebaikan

Bagiku yang keras kepala, mengalah bukanlah perkara mudah. Namun, Ibu selalu memberikan contoh nyata tentang pentingnya mengalah demi kebaikan bersama. Tak jarang, meski sejatinya ibu tidak salah, Ibu memilih untuk diam dan mengalah pada orang lain demi menghindari perpecahan.

Murah Hati pada Siapa Saja

Secara materi, kehidupan ibu berada pada tataran berkecukupan. Bukanlah orang yang hidup dalam gelimang harta. Namun, kekayaan hatinya melebihi harta benda yang dimiliki.

Hatinya mudah sekali tersentuh. Mengulurkan bantuan dan memberikan apa yang dimiliki bukanlah hal yang sulit. Bagi Ibu, memudahkan urusan orang, dan menolong orang lain itu sama saja menolong dirinya sendiri. Karena setiap apa yang kita tanam dalam kehidupan ini, itulah yang akan kita petik hasilnya nanti.

Urip Rukun Aja Nganti Congkrah karo Sedulur

“Hidup rukun, jangan sampai terpecah belah dengan saudara. Biarlah orang lain mau berbuat apa terhadap kita. Biarlah mereka pada pendiriannya, mau mengakui keberadaan kita atau tidak. Yang penting, kita tetap baik pada mereka, dan jangan sampai kita yang memutuskan tali silaturahmi antar saudara.”

Entah sudah berapa kali Ibu mengingatkan kami tentang kerukunan. Hingga masa-masa akhir sebelum kepergiannya, pesan ini pulalah yang Ibu wasiatkan pada kami, anak-anaknya.

Bagi Ibu, teman dan kenalan yang baik pun bisa menjadi saudara baru bagi kita, apalagi yang jelas-jelas memiliki hubungan darah. Keadaan dan kondisi seperti apapun jangan sampai merusak jalinan persaudaraan yang sudah melekat sejak lahir. Pesan ini yang senantiasa kami jadikan pegangan hingga detik ini.

Menceritakan pesan dan kebaikan Ibu rasanya tak akan cukup waktu. Banyak sikap dan sifat ibu yang begitu mulia, bahkan kami anak-anaknya pun belum mampu sepenuhnya untuk mengikuti jejaknya. Meski begitu, hingga detik ini kami masih terus mencoba untuk menjalankan setiap pesan cintanya. Semoga kami bisa meneladani semua sifat baikmu, Ibu.

Ibu, kini tiada lagi kesempatan bagiku untuk bisa merayakan hari ibu bersamamu. Namun, engkau akan selalu hidup dalam hati ini. Semua pesan dan teladan yang kau berikan kan kujadikan pedoman dalam mengarungi kehidupan. Setiap kebaikanmu yang orang-orang kenang, semoga menjadi pemberat timbangan amal. Semoga Allah mengampuni semua kekhilafan Ibu, menerima semua amal ibadah Ibu, dan menempatkan Ibu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Ibu … meski ragamu tak dapat lagi kusentuh, aku akan tetap memelukmu melalui doa tak bertepi.

Menutup cerita tentang Ibu. Untukmu, yang masih memiliki kesempatan menghirup udara yang sama dengan Ibu, atau paling tidak masih bisa mendengar nasihat langsung dan memeluk tubuhnya … nikmatilah waktu terbaik bersamanya. Segalak dan secerewet apapun Ibumu, lebih indah untuk didengar daripada selembar foto yang tak mampu lagi menasihati, dan raga yang tak dapat lagi kau dekap dengan pelukan hangat.

#JasmineElektrikCeritaIBU
#JasmineElektrik
#MIMPIIBU



Nining Purwanti
Selamat datang di blog Ibu Kiya. Ibu pembelajar yang suka baca, kulineran, jalan-jalan, dan nonton drama Korea. Selamat menikmati kumpulan coretan ibu Kiya, semoga ada manfaat yang didapat ya. ��

Related Posts

10 komentar

Posting Komentar